Negeri Indah

Wednesday, May 19, 2010




Kue Cubit

Bahan:
4 butir telur
150 gr gula pasir
3/4 sdt baking powder
300 gr tepung terigu
50 gr margarin, dilelehkan
1/4 sdt vanilli
100 ml air
meisjes secukupnya utk taburan

Cara mengolah:
1. Kocok telur dan gula sampai kaku, masukkan ayakan tepung dan baking powder. Aduk rata.
2. Tambahkan margarin, vanilli, dan air. Diamkan adonan selama 10 menit.
3. Panaskan cetakan kue cubit dengan mentega lalu tuang adonan, setelah setengah matang taburkan meisjes
4. Tutup cetakan, diamkan hingga matang. Angkat

Saya berbeda. "Dame na no?"

Siang ini saya kembali menyempatkan diri melihat tayangan televisi pendidikan. Acara televisi yang paling saya suka karena menayangkan aneka macam tayangan edukatif, tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga buat orang dewasa. Ada acara berisi pelajaran matematika, yang dikemas dengan menggunakan contoh-contoh sederhana di sekitar kita sehingga membuat kita lebih memahami konsep dasar logika matematika. Ada pula pelajaran mengenai lingkungan hidup, seperti penjelasan mengapa penting bagi kita untuk ikut mengelola pembuangan sampah. Mengapa harus bersusah-susah memilah-milah sampah ini termasuk sampah yang bisa dibakar atau bisa didaur ulang.

Kali ini saya melihat acara yang mengisahkan tentang kehidupan seorang anak kelas 5 SD keturunan Brazil di Jepang. Dia biasa dipanggil Kyaro. Ibunya berasal dari Brazil, sedangkan ayahnya terlahir dari ibu asli Brazil dan ayah orang Jepang. Meski berwajah seperti lazimnya orang Brazil, tapi anak ini juga memiliki gurat-gurat layaknya orang Jepang. Di rumah dia berbicara dengan bahasa ibu. Di sekolah dia menggunakan bahasa Jepang, meski dengan aksen ke"brazil"annya.

Hampir tidak ada masalah dengan kehidupannya selama ini sebagai "gaikokujin" (orang asing) di lingkungan sosialnya. Masalah baru mulai muncul saat suatu ketika ada anak baru di tempat kursus "dansu" (tari modern) di mana ia berlatih. Anak baru ini baru datang dari Brazil, sehingga tidak bisa berbicara dalam bahasa Jepang. Dengan memakai anting bulat besar (di Jepang anak-anak tidak boleh memakai anting) dan bergaya bicara cuek sambil mengunyah permen karet, anak baru ini tampak berbeda dengan kebanyakan anak-anak Jepang, pun dengan Kyaro yang lahir dan besar di Jepang. Kyaro pulalah yang selalu menjadi perantara dalam menjembatani kendala bahasa antara teman-teman Jepangnya dan anak baru tersebut. Masalah pertama timbul ketika Kyaro harus menterjemahkan ucapan si anak baru yang bernada ketus kepada teman-teman Jepangnya. Terjadi pergolakan batin dalam diri Kyaro. Apalagi setelah berbicara ketus, si anak baru pergi begitu saja meninggalkan dirinya dalam kebingungan.

Si anak baru merasa tidak nyaman berada di antara teman-teman Jepangnya. Tinggallah Kyaro yang terjepit di antara teman-teman Jepang yang sudah lama ia kenal dan teman baru yang sebangsa dengannya. Sampai suatu saat di kelas "dansu" Kyaro mendengar temannya berkata ketus "Burazirujin dakara (karena dia orang Brazil)" mengenainya ketika dia terlambat datang. Si teman mengganggap Kyaro sama seperti teman baru itu yang tidak datang hari itu. Mendengar perkataan temannya itu, Kyaro marah dan berkata "Watashi wa nihonjin jyanai. Dame na no?" yang artinya "Saya bukan orang Jepang. Tidak bolehkah?"

Tayangan tersebut mengingatkan saya akan putri sulung yang meski tidak lahir di sini, tapi dia banyak menghabiskan masa pertumbuhannya di negara ini. Masyarakat Jepang terbiasa dengan pandangan bahwa semua orang sama. Hal ini bisa dilihat dari sistem pendidikan dasar di negara ini. Penilaian atas hasil belajar di sekolah dasar meniadakan standar angka dan peringkat. Juga dapat dilihat dari hampir tidak terlihat adanya kesenjangan sosial yang mencolok di dalam kehidupan masyarakatnya. Budaya dan bahasanya pun sama meski negara Jepang juga terdiri dari beberapa pulau. Demikian pula halnya dalam kehidupan beragamanya.

Saya teringat ketika di awal kehidupan sosialnya di sekolah, putri sulung saya sering mendapat pertanyaan seputar "mengapa dia memakai anting?". Dari yang sekedar bertanya " mengapa?" sampai komentar "di sini kan anak kecil tidak boleh memakai anting". Tidak hanya soal "anting" yang membuatnya tampak berbeda dari teman-temannya. Di sekolah ada kegiatan makan bersama secara prasmanan yang biasa disebut "kyushoku". Makanannya dikelola oleh petugas khusus. Karena kami muslim, tentu saja tidak bisa mengkonsumsi semua makanan yang disediakan pihak sekolah.

Saya sempat menawarkan opsi kepada putri saya untuk membawa bekal sendiri dari rumah setiap hari. Tapi ternyata dia menolak. Dia tidak ingin lebih tampak berbeda dari teman-temannya dengan "bento" (bekal)nya. Akhirnya saya tetap mengizinkan dia mengkonsumsi makanan yang disediakan sekolah sepanjang halal. Jika menu hari tertentu tidak bisa, maka dia membawa "bento" dari rumah. Bagi saya hal ini dapat meminimalkan rasa "berbeda" dalam diri putri sulung saya karena ada hari di mana dia bisa menikmati makanan yang sama dengan teman lain.

Kisah si anak Brazil dan pengalaman si sulung semakin membuat saya bertambah yakin bahwa perbedaan malah bisa menjadi ajang pembelajaran diri. Alhamdulillah di usia dinimu, kamu sudah mendapat kesempatan untuk menempa diri. Ketahuilah Nak, insyaAllah pengalaman itu akan menjadikanmu pribadi yang kuat. Amin Ya Rabbal Alamin.

Friday, December 25, 2009

Ikan Bumbu Cabe Hijau

Kangen juga...daripada blog ini lama kosong...mungkin gak ada salahnya saya berbagi resep yang foto-fotonya sudah beredar di situs pertemanan saya. Kali ini saya coba menulis resep pemberian mertua (tapi ada sedikit modifikasi dari saya), yang merupakan salah satu favorit suami. Selain ikan kakap, resep ini juga enak untuk ikan kembung loh. Semoga bermanfaat...^_^






Bahan:
- 1 ekor ikan kakap besar yang sudah digoreng
- cabe hijau (sesuai selera) diiris besar-besar dan menyerong
- 3 sdm minyak goreng

Bumbu yang dihaluskan:
- 4 siung bawang merah
- 2 siung bawang putih
- kunyit seruas jari
- separuh tomat besar
- cabe merah (sesuai selera)
- 1 lembar daun jeruk purut
- 1 buah kemiri
- 1/2 sdt gula pasir
- 1 sdt fish sauce
- garam secukupnya


Caranya:
1. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan
2. Masukkan cabe hijau, aduk rata sampai cabe agak layu
3. Lalu masukkan ikan, aduk rata

Saturday, March 07, 2009

Nadhifa Kara No Tegami


Tidak ada kata yang tepat untuk melukiskan bagaiimana perasaan saya saat membaca surat dari anak pertama saya. Pokoknya saya merasa bahagiaaaaaaaaa banget. Terima kasih ya, mbak Dhifaku sayang.

Berawal dari tugas guru kelasnya untuk orangtua di rumah agar membuat surat kepada anak. Temanya ditentukan mengenai perasaan orangtua terhadap anaknya. Guru menyediakan kertas surat lengkap dengan amplop yang sudah diterakan nama si anak. Lalu, di sekolah setiap anak diminta membaca surat dari orangtua masing-masing di depan kelas. Beberapa hari kemudian, tiap anak diminta membalas surat dari orangtua mereka tersebut.

Ide yang bagus dan terus terang saya sangat berterima kasih kepada guru kelas anak saya. Banyak hal yang didapat anak dari cara tsb, antara lain mengajarkan anak bagaimana mengekspresikan perasaan melalui tulisan dan melatih anak membuat karangan. Dengan cara ini pula guru mengajak anak untuk mengasah kemampuan dalam mengolah perbendaharaan kanji yang sudah didapat selama ini.


Okaasan e

Okaasan, sutekina tegami o arigatou. Nan kai mo nan kai mo yondara, kandou nakishichattayo. Ie de mo, hanashitaikedo, chisai koro wa, byouki ni natta koto ga aru. Netsu datta yo ne? 40 do gurai datta yo ne? Sono toki ni, watashi ga inakunattate, omotteitanda ne. Shinpaishitekurete arigatou. Watashi o umaresasete, arigatou. Soshite sodattekurete, arigatou. Nagaiki mo dekite….ureshiina. Kore kara mo onegaishimasu.

Nadhifa yori



Kepada Ibu

Terima kasih atas surat Ibu yang bagus. Berkali-kali dibaca membuat aku menangis. Di rumah pun pernah berbicara tentang masa kecilku. Ketika aku pernah sakit dulu. Sakit demam kan ya? Kira-kira 40 derajat kan ya? Waktu itu aku hampir tidak ada ya? Terima kasih karena Ibu sudah mengkhawatirkanku. Terima kasih juga telah melahirkanku. Lalu, terima kasih sudah membesarkanku. Panjang umur…senangnya. Mulai sekarang juga tolong dibantu.

Dari Nadhifa

Thursday, February 14, 2008

Kakek dan Nenek Idaman

Tulisan ini terinspirasi oleh sosok sepasang kakek-nenek yang membuat saya terkagum-kagum. Kekaguman saya dimulai ketika mereka sering hadir di sebuah tanah kosong di seberang rumah saya. Tepatnya tiga tahun yang lalu, mereka sering datang ke tempat itu. Mula-mula saya sering bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan mereka buat karena mereka terlihat sibuk dengan balok-balok kayu dan alat pertukangan. Dari kejauhan terdengar bunyi desingan alat pemotong kayu listrik atau alat pemaku listrik, hampir setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.



Jika melihat penampilan dan cara berjalan, mungkin usia mereka di atas 70 tahun. Namun perkiraan saya bisa saja salah mengingat banyak sekali orang lansia di Jepang yang terlihat masih segar dan energik meski ternyata usia mereka sudah 80 tahun. Inilah yang saya kagumi dari sepasang kakek-nenek tersebut di atas. Di usia yang sudah tidak muda lagi mereka masih kuat mengangkat-angkat, memotong, memaku, dan menyusun balok-balok kayu, yang kemudian saya ketahui ternyata mereka membuat pagar di sekeliling tanah kosong tersebut.




Setelah pagar jadi saya melihat ada papan pengumuman yang terpasang di salah satu sisi pagar. Isinya pemberitahuan bahwa awal tahun 2006 akan dibuka sebuah kafe yang diberi nama Alisu No Mori (Hutan Alice). Menurut teman saya yang sudah lama tinggal di daerah ini, Alisu adalah toko kue yang terkenal sangat enak, yang di kemudian hari saya buktikan sendiri kebenarannya. Kemudian saya berpikir akankah mereka sendiri yang akan membuat kafe itu? Percaya tidak? Kecuali bangunan utama berbentuk rumah yang dibuat di tempat lain (Untuk pertama kalinya saya melihat ada rumah yang ditarik oleh truk besar dan diletakkan di sebuah tanah kosong dengan bantuan alat derek. Agak susah juga mendeskripsikannya, tapi mudah-mudahan bisa dibayangkan penjelasan tersebut.), bangunan lain mereka sendiri yang membuatnya, seperti beranda yang dibuat seperti panggung, meja-kursi yang ada di beranda, atap beranda, dan tempat berteduh di halaman samping (lihat gambar kedua). Demikian pula tanaman penghias kafe dan rumput di halaman samping, merekalah yang menanamnya.


Setelah dua tahun berdiri, sang kakek dan nenek sepertinya tidak pernah lelah membuat sesuatu yang baru untuk kafe mereka. Kini saya mulai mendengar lagi suara ketukan dan desingan alat-alat pertukangan dari seberang sana. Seperti dulu, mereka berdua bahu membahu membuat entah apa lagi di depan kafe itu. Dan saya semakin mengagumi mereka.

Wednesday, January 16, 2008

Music and Lyrics: Sebuah Ulasan Singkat


Sudah lama tidak menonton film barat, baru kemarin saya punya kesempatan untuk melihat sebuah film comedy romance produksi tahun 2007. Film Music dan Lyrics dibintangi oleh aktor yang punya kharisma sebagai playboy, Hugh Grant dan bintang yang sudah main film sejak masih kanak-kanak, Drew Barrymore.

Tidak ada yang istimewa betul dari film ini. Akting kedua pemain juga biasa saja. Hugh Grant berperan sebagai Alex Fletcher, seorang mantan penyanyi dari sebuah grup musik yang populer di tahun 80-an. Sebuah lagunya yang berjudul Pop! Goes My Heart pernah bertengger sangat lama di puncak tangga lagu. Akan tetapi, setelah itu grup mereka bubar. Pasangan duetnya di grup tersebut membuat band baru dan mulai terjun ke dunia film. Sedangkan Alex Fletcher berusaha tetap eksis dengan bantuan manajer setianya, Chris. Namun meraih kembali kepopuleran ternyata tidak mudah. Kehadirannya bahkan nyaris dilupakan oleh publik pecinta musik, kecuali oleh segelintir orang. Tidak jarang dia harus show di tempat-tempat yang sebelumnya tak terjamah oleh band sepopuler Pop, seperti di acara reuni sekolah atau di arena amusement park.

Di tengah usahanya itulah ia mendapat tawaran berharga dari seorang penyanyi muda yang tengah naik daun untuk membuat sebuah lagu. Sebuah tawaran menarik sekaligus sulit karena Alex diminta membuat lagu baru sesuai dengan tema dan judul yang sudah ditetapkan oleh Cora Corman, penyanyi yang mengenal grup Pop dari orangtuanya, dalam waktu tidak sampai seminggu . Di sinilah secara kebetulan ia bertemu dengan seorang gadis, yang pada awalnya bertandang untuk menggantikan posisi temannya sebagai perawat tanaman di rumah Alex. Sophie Fisher, gadis itu tanpa sengaja bersenandung ketika Alex sedang berusaha membuat lagu. Senandung spontan Sophie menggugah naluri bermusiknya. Kemudian Alex berusaha membujuk Sophie agar mau membuat lirik untuk lagu yang sedang digubahnya. Awalnya Sophie menolak karena merasa tidak mampu, tapi Alex bersikeras bahwa Sophie punya talenta dalam membuat lirik lagu. Kehadiran Sophie ternyata tidak hanya membantunya dalam mencipta lagu, tapi juga membawa spirit baru untuk kelangsungan hidup bermusiknya.

Bagi pecinta film romantik, film ini cukup menghibur dari awal hingga akhir. Yang menarik dari film ini, menurut saya, adalah lagu Way Back Into Love, yang di dalam cerita digambarkan sebagai lagu yang diciptakan oleh Alex Fletcher dan Sophie Fisher. Lagu yang menjadi pengikat cinta bagi keduanya. Lagu itu juga sekaligus menjadi momen awal bangkitnya kembali kepopuleran seorang Alex Fletcher dan debut baru Sophie Fisher sebagai penulis lirik lagu.

Monday, June 11, 2007

"Bullying" dan "Ijime"

Dua kata yang saya jadikan judul tulisan kali ini adalah dua kata yang sedang populer. Bullying sedang marak di Indonesia lantaran kasus terakhir yang saya baca di internet, yang mengakibatkan kematian seorang bocah laki-laki umur 8 tahun. Sedangkan Ijime juga sedang menjadi topik hangat di Jepang lantaran juga banyak mengakibatkan kematian anak-anak sekolah.

Akan tetapi ada sedikit perbedaan di antara kedua kata tersebut. Bullying di Indonesia cenderung mengarah ke kekerasan fisik seperti pemukulan, yang untuk beberapa kasus mengakibatkan kematian. Sedangkan Ijime cenderung mengarah ke kekerasan mental seperti ejekan atau intimidasi lewat kata-kata yang keras, yang membuat anak-anak yang tidak kuat mentalnya memilih mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri sebagai jalan keluar.

Saya amat sangat prihatin dengan potret buram pendidikan di Indonesia sekarang. Kasus terakhir di Bali itu membuat saya merinding membayangkan kehidupan pendidikan yang mungkin bakal dijalani oleh anak-anak saya. Barangkali mungkin memang tidak di semua sekolah terjadi hal seperti itu. Juga tidak semua anak Indonesia berperilaku seperti itu. Tapi setidaknya kasus di Bali mencerminkan kekerasan fisik yang mengarah ke kriminalitas sudah mulai menjamah anak-anak. Astaghfirullah. Lalu kadang terpikir oleh saya, apakah pendidikan agama sudah tidak berpengaruh di zaman sekarang ini? Jika demikian, dengan jalan apa kita menanamkan cinta kasih kepada anak-anak kita??? Semoga pihak yang berkepentingan cepat mencari jalan keluar agar masalah ini tidak berkembang pesat.

Wednesday, April 18, 2007

Anak Menonton Acara TV: Baikkah?

Ketika saya kecil saya suka sekali menonton film Little House On The Prairie. Menurut saya ceritanya bagus dan pas sekali dengan imajinasi saya sebagai anak-anak. Atau kisah boneka Si Unyil karya anak bangsa sendiri. Itu juga cukup mengibur dan merupakan acara yang saya tunggu-tunggu setiap Minggu pagi. Namun coba tengok ragam acara TV sekarang? Penuh dengan gosip-gosip perceraian artis, berita kekerasan, atau sinetron-sinetron yang terlalu banyak menjual mimpi. Tengok pula tingkah polah anak-anak sekarang yang lebih hafal lagu-lagu dewasa macam Peterpan, Radja, Samsons, Ratu, dan sejenisnya ketimbang lagu-lagu khusus anak-anak karya Ibu Sud, Pak Kasur, atau AT Mahmud. Semua itu benar-benar membuat para orang tua menjadi prihatin.

Keprihatinan para orang tua akhirnya membuat mereka mengambil berbagai macam langkah pengamanan untuk anak-anak. Ada yang melarang anak menonton acara TV. Ada pula yang sekedar membatasi lamanya menonton. Bahkan ada yang memilihkan tayangan TV kabel tertentu saja. Melihat kenyataan seperti itu, saya jadi bertanya-tanya? Begitu banyaknya rumah produksi yang membuat berbagai macam sinetron yang laris manis dan menguntungkan. Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang tergerak untuk membuat sesuatu yang sedikit saja idealis: demi kepentingan pendidikan anak-anak?

Sebenarnya, menonton acara TV bukanlah suatu kegiatan yang buruk. Asal, ya itu tadi, acara yang ditonton sesuai dengan pertumbuhan anak-anak. Kalau anak hanya diwajibkan belajar dan belajar terus juga tidak baik. Masa anak-anak juga harus diisi dengan aneka kegiatan yang menghibur. Salah satunya, menonton acara TV yang beredukasi. Ah...saya jadi rindu masa-masa menonton Si Unyil dan Little House On The Prairie. Atau berdendang menyanyikan lagu Kulihat awan seputih kapas, arak berarak di langit luas, andai kudapat kesana terbang, akan kuraih kubawa pulang...